Ini sarapan pagi pertamaku di bulan januari ini, bukan
berarti selama 13 hari aku tak sarapan. Aku sarapan tapi tak sepagi ini.
Sekitar jam 9 biasanya aku mengisi suplai energiku sebelum kuliah. Ku nikmati
makan pagiku ini dengan santai ditemani segelas teh panas d samping laptop,
sembari aku makan dengan bergantian jari ku ini mulai mengetik sebuah cerita.
Yah.. cerita yang terinspirasi dari sarapan pagi pertama di bulan januari. Kau
hadir lebih awal hari ini. Menyapaku dengan gayamu yang khas. Kau tlah ciptakan
awal yang indah untuk pagi baruku ini dengan satu senyuman. Ku tengok keluar
jendela langit d atas sedang mendung.. ketika ku teguk nikmat manisnya teh
hangat ini seketika itu juga hujan rintik turun memecah kesunyian alam yang
mulai tergugah dengan sinar mentari jika ini langit tak murung.
Aku kembali larut mendekap jariku rapat pad apuluhan tombol
dan minitor yang ada di hadapku. Menikmati pagi pertama dibulan januari ini
membuat ku kembali teringat, ketika ku lihat dimonitor sebelah kanan, hari ke
14 d bulan januari. Jika saat aku masih bersamanya tentu sudah dari tengah
malam lalu aku ucapkan selamat dan segala pengharapan yang kuingin terhadap
hubungan kami. Dan dia memberiku satu kecup manis lewat pesan singkat dan
menelfonku memanggilku sayang. . .
aku hanya bisa melempar pandang kembali melihat kini 14 januari yang sebenarnya, tiada dirimu disini. Tiada lagi kita. Tiada lagi aku harus repot-repot mengomel agar kau mau sarapan pagi. Memberimu semangat ketika surat lamaran pekerjaan yang kau layangkan tak sampai pada pimpinan regu elang disana yang siap berperang. Atau yang lebih menyebalkan ketika kau tak pernah ada atau mengerti betapa aku kesepian disini menginginkan kehadiranmu disisiku. Dengan kaku memilih untuk menyibukan dirimu sendiri dengan kegiatan bodohmu itu.
aku hanya bisa melempar pandang kembali melihat kini 14 januari yang sebenarnya, tiada dirimu disini. Tiada lagi kita. Tiada lagi aku harus repot-repot mengomel agar kau mau sarapan pagi. Memberimu semangat ketika surat lamaran pekerjaan yang kau layangkan tak sampai pada pimpinan regu elang disana yang siap berperang. Atau yang lebih menyebalkan ketika kau tak pernah ada atau mengerti betapa aku kesepian disini menginginkan kehadiranmu disisiku. Dengan kaku memilih untuk menyibukan dirimu sendiri dengan kegiatan bodohmu itu.
Yang kini kulihat telah berbeda. Ku hela nafasku pelan. Menjelajah
sejenak dalam alam maya si burung biru berkicau. Dan interaksi dirimu dan aku. Ah
kau kini sedang memainkan peran sebagai seseorang dalam diriku yang membuatku
tak mengalihkan pandangku pada dunia untuk tak menghabiskannya dengan jengah
atau hanya lamunan.
Kembali aku hanya tersenyum padamu di kamar ini. Aku kembali
melihat lagi jam yang berdetak nyaring namun baru ku dengar detaknya kali ini
karna saking seriusnya aku bermain game, melamunkanmu, melamunkan kita, kuliah.
.
Oh ya kuliah,.. sudah habis waktu. Aku ambil handuk tuk
segera membersihkan diri. Mungkin saja dengan percik dan guyuran air yang
membasahi tubuhku membuatku segar kembali membuatku membuka mata ini sudah
waktunya aku bangun.
0 komentar:
Posting Komentar