14.1.13

Penonton Dunia

Standard

Ini entah hasil tulisanku yang sudah keberapa kali. Kau tau udara kadang memang terasa sesak meski udara itu hanya terdiri atas oksigen yang jantung butuhkan agar darah bisa terpompa dan kita bisa merasakan kegiatan yang namanya bernafas. Kadang aku juga ga ngerti ketika seharusnya ujung tombak itu runcing tapi kenyataannya bahkan untuk menusuk gumpalan daging tipis saja tak mampu. Dan jika berbicara tentang hati aku benar-benar merasa terombang ambing tak menentu, akalku sama sekali tak dapat merespon dengan baik apa itu hati mereka yang aku tau.begitupula tentang akal mereka. Yah mungkin tuhan sudah menciptakan yang namanya manusia itu ga sama tapi bukan berarti kan ketidak samaan itu tidak bisa d kondisikan dengan baik. Mamaku memang benar apa-apa itu kembali pada iman yang mengendalikan otak kita, pemikiran kita dan tak hanya hati tapi juga qalbu. Aku sering melihat ambisi di sana yang menggebu-gebu tapi ambisi itu tak tau arah menuju tujuan dengan benar. Atau keinginan yang kata diri disana itu cinta, tapi akal hati ah tak usah bicara qalbu karena diri-diri itu tak akan mengerti. Segala akan ditempuh entah itu salah entah itu bodoh entah itu memalukan bahkan membuang harga diri diri-diri mereka itu. Menjadi penonton dunia memang mudah. Asal kau lahir jabatan pertama yang kau sandang adalah penonton dunia.
Dunia ini memang seperti sandiwara. Kita lahir, kita diajarkan agar berperan dan memiliki watak seperti para tokoh pada pandawa lima. Kita bersosialisasi agar mengerti apa yang orang lain rasakan. Apa yang harus kita perbuat ketika bersalah, intinya agar kita bisa mengenal bahwa di dunia ini bukan hanya kita yang hidup.
Dan siapa yang gagal di dunia ini akan menjadi sampah yang hidup. Memalukan, terasing, terabaikan. Hidup itu berjuang. Hidup itu bebas tapi bertanggung jawablah atas kebebasan hidup yang tlah tuhan berikan jangan jadikan hukum yang katanya itu Hak Asasi Manusia membuat kita lena akan tanggung jawab kita dalam hidup.

0 komentar: