Ini entah hasil tulisanku yang sudah keberapa kali. Kau tau
udara kadang memang terasa sesak meski udara itu hanya terdiri atas oksigen
yang jantung butuhkan agar darah bisa terpompa dan kita bisa merasakan kegiatan
yang namanya bernafas. Kadang aku juga ga ngerti ketika seharusnya ujung tombak
itu runcing tapi kenyataannya bahkan untuk menusuk gumpalan daging tipis saja
tak mampu. Dan jika berbicara tentang hati aku benar-benar merasa terombang
ambing tak menentu, akalku sama sekali tak dapat merespon dengan baik apa itu
hati mereka yang aku tau.begitupula tentang akal mereka. Yah mungkin tuhan
sudah menciptakan yang namanya manusia itu ga sama tapi bukan berarti kan
ketidak samaan itu tidak bisa d kondisikan dengan baik. Mamaku memang benar
apa-apa itu kembali pada iman yang mengendalikan otak kita, pemikiran kita dan
tak hanya hati tapi juga qalbu. Aku sering melihat ambisi di sana yang
menggebu-gebu tapi ambisi itu tak tau arah menuju tujuan dengan benar. Atau
keinginan yang kata diri disana itu cinta, tapi akal hati ah tak usah bicara
qalbu karena diri-diri itu tak akan mengerti. Segala akan ditempuh entah itu
salah entah itu bodoh entah itu memalukan bahkan membuang harga diri diri-diri
mereka itu. Menjadi penonton dunia memang mudah. Asal kau lahir jabatan pertama
yang kau sandang adalah penonton dunia.
Dunia ini memang seperti sandiwara. Kita lahir, kita
diajarkan agar berperan dan memiliki watak seperti para tokoh pada pandawa
lima. Kita bersosialisasi agar mengerti apa yang orang lain rasakan. Apa yang
harus kita perbuat ketika bersalah, intinya agar kita bisa mengenal bahwa di
dunia ini bukan hanya kita yang hidup.
Dan siapa yang gagal di dunia ini akan menjadi sampah yang
hidup. Memalukan, terasing, terabaikan. Hidup itu berjuang. Hidup itu bebas
tapi bertanggung jawablah atas kebebasan hidup yang tlah tuhan berikan jangan
jadikan hukum yang katanya itu Hak Asasi Manusia membuat kita lena akan
tanggung jawab kita dalam hidup.
0 komentar:
Posting Komentar