Seiring deru kerasnya suara mesin beroda dua atau empat itu saling beradu. Riuh
kencang membelah tiap sela udara angin dan panasnya mentari jelang sore.
Senggang waktu ini dengan langit semu mendung namun masih kulihat ada cahaya
yang cerah untuk menghangatkan ruang disini. Aku beranjak padamu yang tadi
hadir sepintas sekilas, mengisi kekosongan pandangku meliput dunia yang hiruk
pikuk tanpa ada sedikit kelonggaran untuk bernafas. Disini aku mencoba kembali
mengingatmu yang tadi. Secepat akses internet yang ku pakai saat ini, seperti
sekilas itu juga pandang mu dan pandangku beradu atap.
Angin kembali menyibak rambutku pelan dan lembut, ingatkan
ku terhadap dirimu.. lakumu yang begitu membuat ku rindu ketika ruang tak lagi
cukup waktu untuk kita dapat saling bertatap atau bersapa. Aku hanya penulis
naif disini yang sedang berhayal lalu ku tilis dan berharap kau disana yang
membuat aku kacau namun rindu dan aku bisa kembali seperti memiliki atmosfer
baru yang bisa membuatku hidup lagi setelah sekian lama aku tertidur karna
sekarat mengetahui apa yang kutulis dan mungkin kita dapat saling terpaut?
Kunantikan saat itu, saat kau kan datang menerobos waktu dan
ruang untuk menemuiku. Bak pangeran gagah yang tak takut mati demi menemui
putri disana d ujung langit, putri yang terkurung menara menjulang ke langit.
Tanpa aku tau kamu harus berubah menjadi dia atau dia atau siapapun itu. Aku
hanya inginkan dirimu yang seutuhnya seperti apa yang aku kenal sebelumnya.
Akupun seperti panas ruang ini yang terasa ketika aku mengetahui
cerita dirimu yang semu itu pada masa lalu. Dan akupun begitu seperti dinginnya
ketika hujan yang turun saat malam menyelimuti langit saat kau tak kunjung jua
datang disini.
Jengah tak dapat lagi menahanku untuk tetap berada ditempat
ini, kuputuskan untuk beranjak dari ruang yang kupijak. Kunikmati langkah yan
ada dengan menundukan kepala, begitu silau cahaya langit ini menerpa wajahku.
Tak kusangka setelah beberapa langkah yang ku pijak pelan dirimu kejutkan aku
yang sedang tak mampu melihat oleh silaunya cahaya dunia. Segurat senyum. Yah hanya
itu saja aku ungkapkan ketika melihatmu. Kau berlalu dengan sedikit memalingkan
kembali wajahmu semu melihatku kembali yang telah berada dibelakangmu.
Mungkin itu modus darimu tapi aku suka. Ku nikmati lagi
pijakan di bumi ini menuju ke kampus tempat ku mencari ilmu. Dan seketika itu
pula kita kembali bertemu, dan yang membuat berbeda. Kali ini diantara kita ada
senyum yang menghias, itu senyum darimu.
Hawa dalam tubuhku kini tlah berubah. Tak seperti tadi yang
suram layaknya mendung tadi, kini ibarat langit aku sudah seperti hanya
sebentang langit luas biru yang tanpa awan.
Kau membuatku terkesan. .
0 komentar:
Posting Komentar