7.1.13

Menara Langit Hati

Standard

Seiring deru kerasnya suara mesin beroda dua atau empat itu saling beradu. Riuh kencang membelah tiap sela udara angin dan panasnya mentari jelang sore. Senggang waktu ini dengan langit semu mendung namun masih kulihat ada cahaya yang cerah untuk menghangatkan ruang disini. Aku beranjak padamu yang tadi hadir sepintas sekilas, mengisi kekosongan pandangku meliput dunia yang hiruk pikuk tanpa ada sedikit kelonggaran untuk bernafas. Disini aku mencoba kembali mengingatmu yang tadi. Secepat akses internet yang ku pakai saat ini, seperti sekilas itu juga pandang mu dan pandangku beradu atap.
Angin kembali menyibak rambutku pelan dan lembut, ingatkan ku terhadap dirimu.. lakumu yang begitu membuat ku rindu ketika ruang tak lagi cukup waktu untuk kita dapat saling bertatap atau bersapa. Aku hanya penulis naif disini yang sedang berhayal lalu ku tilis dan berharap kau disana yang membuat aku kacau namun rindu dan aku bisa kembali seperti memiliki atmosfer baru yang bisa membuatku hidup lagi setelah sekian lama aku tertidur karna sekarat mengetahui apa yang kutulis dan mungkin kita dapat saling terpaut?
Kunantikan saat itu, saat kau kan datang menerobos waktu dan ruang untuk menemuiku. Bak pangeran gagah yang tak takut mati demi menemui putri disana d ujung langit, putri yang terkurung menara menjulang ke langit. Tanpa aku tau kamu harus berubah menjadi dia atau dia atau siapapun itu. Aku hanya inginkan dirimu yang seutuhnya seperti apa yang aku kenal sebelumnya.
Akupun seperti panas ruang ini yang terasa ketika aku mengetahui cerita dirimu yang semu itu pada masa lalu. Dan akupun begitu seperti dinginnya ketika hujan yang turun saat malam menyelimuti langit saat kau tak kunjung jua datang disini.
Jengah tak dapat lagi menahanku untuk tetap berada ditempat ini, kuputuskan untuk beranjak dari ruang yang kupijak. Kunikmati langkah yan ada dengan menundukan kepala, begitu silau cahaya langit ini menerpa wajahku. Tak kusangka setelah beberapa langkah yang ku pijak pelan dirimu kejutkan aku yang sedang tak mampu melihat oleh silaunya cahaya dunia. Segurat senyum. Yah hanya itu saja aku ungkapkan ketika melihatmu. Kau berlalu dengan sedikit memalingkan kembali wajahmu semu melihatku kembali yang telah berada dibelakangmu.
Mungkin itu modus darimu tapi aku suka. Ku nikmati lagi pijakan di bumi ini menuju ke kampus tempat ku mencari ilmu. Dan seketika itu pula kita kembali bertemu, dan yang membuat berbeda. Kali ini diantara kita ada senyum yang menghias, itu senyum darimu.
Hawa dalam tubuhku kini tlah berubah. Tak seperti tadi yang suram layaknya mendung tadi, kini ibarat langit aku sudah seperti hanya sebentang langit luas biru yang tanpa awan.
Kau membuatku terkesan. .

0 komentar: