Aku menyambangimu dengan
diam. Aku menantikan hadirmupun dengan diam. Dan saking diamnya
hingga kau tak mengerti. Merasa bahasa yang ada tak cukup untuk
membahasakan ingin dariku terhadapmu. Dimata yang lain aku tak
seperti seorang yang sedang gandrung terhadap sosokmu yang begitu ku
rahasiakan.
26.4.14
19.4.14
Terungkap Semua Isi Hatiku, Andai Matamu Melihatku
Standard
Aku kisahkan tentangmu lagi. Karna kamu
begitu menarik untuk ku tulis, untuk ku bayangkan, untuk ku mimpikan
dan untuk ku dambakan. Kini aku sekarang sedang menghayalkan kamu dan
aku. Kita akan pergi. Ada gunung yang menjulang disana. Dipuncaknya
ada keindahan yang aku yakin melebihi dari apa yang kita pernah lihat
di daratan ini. Ayo, maukan kamu pergi bersamaku keatas sana. Kita
berjuang bersama untuk menuju satu yang indah diatas sana. Aku memang
belum pernah mencapai ketinggian itu. Tapi entah, ada yang mengatakan
pada hatiku disana ada hal yang indah. Maukan? Yah kamu mau kan?
12.4.14
Seseorang yang Kunikmati Sendiri
StandardDirimu. . begitu asyik kunikmati sendiri. Bagitu bermakna kumiliki sendiri. Mungkin begitu egois ku sembunyikan dirimu dari dunia, dari tiap kedip mata yang ingin melihat, ingin mengetahui.
Tiap sisi dari hatiku, mengagumi diri kamu. Kamu begitu membuat hidupku lebih dan menjadi memiliki rasa. Aku yang memilikimu sendiri. Tanpa persetujuan dari kamu yang memiliki tubuh itu, senyum itu, gestur itu. Maaf, mungkin aku seperti mencuri “dirimu” tanpa kau atau mereka ketahui. Lalu menikmatinya dengan lantunan lagu perancis yang mendayu romantis.
Tiap sisi dari hatiku, mengagumi diri kamu. Kamu begitu membuat hidupku lebih dan menjadi memiliki rasa. Aku yang memilikimu sendiri. Tanpa persetujuan dari kamu yang memiliki tubuh itu, senyum itu, gestur itu. Maaf, mungkin aku seperti mencuri “dirimu” tanpa kau atau mereka ketahui. Lalu menikmatinya dengan lantunan lagu perancis yang mendayu romantis.
5.4.14
Embun Yang Menguap
StandardEmbun Yang Menguap
Terbangun dari malam, segelas kopi yang terminum kemarin masih menyisakan seteguk. Laptop yang masih menyala. Ternyata sudah pukul delapan. Mata masih merabun, remang cahaya lampu mendeskripsikan bingkai foto, karpet, ranjang. Lalu apalagi yang harus diingat, dirasa, dilakukan.
Terbangun dari malam, segelas kopi yang terminum kemarin masih menyisakan seteguk. Laptop yang masih menyala. Ternyata sudah pukul delapan. Mata masih merabun, remang cahaya lampu mendeskripsikan bingkai foto, karpet, ranjang. Lalu apalagi yang harus diingat, dirasa, dilakukan.
Langganan:
Komentar (Atom)