16.3.16

Nakalnya Aku, Gurau

Standard

Jika ada hal yang bisa kutemui, inginku menyandarkan diri pada lenganmu
Dengan lebih berani turut ku dekap lenganmu, biar kamu juga menjadi lebih berani.
Biar kamu makin mengerti aku menyukai hangat tubuhmu yang datang dengan cara menyelimut pelan
Dan aku ingin menjadi sepenuhnya milik dirimu.

Nakalnya aku
Gurau

Termangu

Standard

Dengan siapa orang yang paling mampu membuatmu senang ketika kau bertemu dengannya? Adakah?
Sepertinya rasanya akan menjadi impas ketika kamu mengetahui bahwa ketika bertemu denganmu bukanlah hal yang sesungguhnya ia pilih.
Diujung perjumpaan rasanya ingin memeluknya dari belakang, memberi taunya 'maafkan aku yang sudah mengganggu waktumu, bisakah menuruti bersamaku saja engkau sebaiknya' biarkan aku dan ijinkan dirimu. . .
Namun yang terjadi hanya termangu dan mulut yang terkatup, melihat punggungnya yang semakin mengecil ditelan lengkung jalan. .

10.3.16

Pandang

Standard

Bercengkrama dengan orang lain seperti membuka buku baru. Pernah suatu ketika bercengkrama dengan seorang yang memiliki pandang ungu. Pandangnya sedikit nyeleneh, tapi jika kamu menjadi sepenuhnya gelas kosong untuknya maka yang kamu rasakan adalah dia ada benarnya namun kemudian kamu akan merasa janggal hingga bibirmu terkatup.
Bertemu kembali dengan seorang yang lain, kamu benar. Menulis adalah ingatan baik yang kelak dapat mengingatkan. Seorang yang berikutnya memiliki pandang warna sekunder. Tolong untuk tak anggap remeh dengan kasta warna sekunder ini. Karna Ia mendapatkannya dari campuran warna warna primer. Darinya ada hal menarik yang saya lihat, hingga baju yang saya kenakan turut mendapatkan tambahan pola warna.
Tentang alasan bibir yang terkatup. Jika itu mengerucut untuk mendapat satu sudut, kamu benar. Namun benar yang dimiliki tidak bernilai sepenuhnya karna sebaiknya harus kamu tarik juga garis - garis lain agar membentuk lengkungan untuk kamu pertimbangkan.

Pembicaraan seorang hewan, dan seekor manusia.