31.5.14

Detak Hati Yang Hilang 6

Standard
Hujan itu datang untuk kesekian kalinya. Udara semakin dingin, ia tak tinggalkan lampu ataupun kayu bakar. Aku ingin beranjak, biarkan aku pergi. Hujan semakin deras namun terdengar lirih suara tawa yang ku kenal, suara yang kuharap kedatangannya. Bersama besarnya hujan, berharap kau segera pulang.

24.5.14

Detak Hati Yang Hilang 5

Standard
Dia telah membuka matanya sepagi ini, matanya makin sendu senyumnya makin kandas dan oranye atau biru tak nampak. Gerakannya pelan menyambut hari, bangun dari tempat tidurnya. Mengusap pelan kelopaknya mengusir bayangan bayangan blur sisa tidur semalam. Jalannya gontai menuju jendela, membuka tirai, langit tak serendah yang lalu. “mungkin ia sudah mulai berhenti memikirkan tentang rindunya”, matanya kosong kini melempar pandangannya lebih jauh keluar jendela.
Dirumah itu kini ia tertegun seharian, enggan ia keluar. Gembok menggandeng erat pintunya, siapa yang menyekapnya? Kemarin aku melihatnya bersapa dengan langit meski kemudian ia menangis.
Air mata turun pelan dari sisi tengah mata kanannya. Lagi.

17.5.14

10.5.14

Detak Hati Yang Hilang 3

Standard
sebelumnya di Detak Hati Yang Hilang 2

Hujan yang tak ku taui judulnya itu datang. Membawa dingin semerbak lara, kufikir mendung kemarin tak berlajut menjadi turunnya hujan, sengaja aku tak membawa payung hitamku. Basah kering dingin bahagia ataupun lara ingin ku rasakan langsung biar menyentuh tubuh.

3.5.14

Detak Hati Yang Hilang 2

Standard
sebelumnya di Detak Hati Yang Hilang



aku menyukaimu.
tak apa kita tak slalu bersama, namun pastikanlah tiap pertemuan yang kan hadir adalah sebagai penguat kita.dan rentangan waktu yang membuat jarak – jarak terhadap kita, tanamkan disepanjang jalannya adalah kesetiaan. biar aku dan kamu tau kemana arahnya pulang, yaitu "kita".