12.4.14

Seseorang yang Kunikmati Sendiri

Standard
Dirimu. . begitu asyik kunikmati sendiri. Bagitu bermakna kumiliki sendiri. Mungkin begitu egois ku sembunyikan dirimu dari dunia, dari tiap kedip mata yang ingin melihat, ingin mengetahui.
Tiap sisi dari hatiku, mengagumi diri kamu. Kamu begitu membuat hidupku lebih dan menjadi memiliki rasa. Aku yang memilikimu sendiri. Tanpa persetujuan dari kamu yang memiliki tubuh itu, senyum itu, gestur itu. Maaf, mungkin aku seperti mencuri “dirimu” tanpa kau atau mereka ketahui. Lalu menikmatinya dengan lantunan lagu perancis yang mendayu romantis.
Berangan aku dan kamu berdansa di luasnya lantai dansa. Kau pakai taxedo kerenmu, dan aku dengan gaun yang mengembang kebawah berwarna putih. Kita larut dengan malam. Atau. . aku seperti sorang pungguk yang merindukan bulan, lagi. . ketika aku lelah, merasa tak mampu, dalam hati ku memanggil namamu. Lalu di mataku kamu hadir, mendekatiku dan aku dipertemukan lagi dengan senyum itu dan bersapa lagi dengan damainya suasana khasmu.
Begitu kamu aku idamkan. . begitu kamu kuharapkan menjadi nyata. . begitu ku andaikan percakapan panjang kita terjadi. Begitu aku menjadikan kamu adalah hangat yang ku butuhkan untuk mencairkan dinginnya belantara. Begitu betapa sangat amat. .
Di pejaman mataku kamu begitu lekat. Dan aku merasa begitu bahagia, menikmatimu untukku sendiri. Ini ada cinta, begitu besar begitu hati memilih dirimu. Ini ada rindu, yang dapat kuledakkan seperti kembang api andai kamu mau menyapaku. Ini ada ketulusan yang tak kan merubah cinta menjadi kecewa, meski lara kadang menyapa. Lara yang di bawa oleh realita.
Dan tiba waktu kau yang begitu, betapa, sangat, amat, mencipta rasa yang berbeda dalam hati. Ternyata tak hanya aku yang menjadi pejuang, ada yang lain. Pejuang yang lain memperjuangkanmu dalam realita. Tak sepertiku yang penakut yang hanya bisa seperti “berpura” memilikimu, yang bisanya hanya membayangkan. Sebut saja memperjuangkanmu dengan harapan dan harapan. Aku begitu takut, begitu merasa tak pantas aku untuk menyentuh sedikit tubuh nyatamu, dalamnya jiwamu.
Oh sekarang apalah artiku ? mengenalkupun saja mungkin kau tidak. Menoleh padaku, oh mimpi saja aku ini. Tapi tetap saja ada bayanganmu yang terus menerus hadir dan lagi memaksaku merindu, lalu menjadikan lagi cinta itu. Lalu rasa nrimo ku, getir rasanya. Inginku jua menjadi bagian nyata di dirimu. Benar, aku jua inginkan yang memiliki perasaan merah muda ini kamu.
Tapi siapalah aku. .
Dihadap dirimu yang begitu betapa sangat aku. .
Dan aku yang sangat betapa begitu . .
Oh kamu. . .

0 komentar: