Hujan itu datang untuk kesekian kalinya. Udara
semakin dingin, ia tak tinggalkan lampu ataupun kayu bakar. Aku ingin
beranjak, biarkan aku pergi. Hujan semakin deras namun terdengar lirih
suara tawa yang ku kenal, suara yang kuharap kedatangannya. Bersama
besarnya hujan, berharap kau segera pulang.
Aku cemburu pada hujan yang menahannya, hujan yang memberikan ku jarak yang membuat terasa semakin jauh dan tawa yang dia bagi untuk hujan. Hujan hujan hujan hujan. Seperti seperti seperti. Aku tak ingin memberimu judul.
Kau . .
Hujan itu ramai, menyajikan sejuta cerita sejuta jumlah rintiknya yang ada. Hujan itu meredam panasmu, hujan mendekap angin yang menjadi tempatmu membicrakan tentang semua. Tapi hujan itu hanya sementara, dinginnya tak pasti mampu untuk meredamkanmu karna bahkan kau dapat merasa menjadi tak nyaman.
Pulanglah . . cukupkan, pulanglah pada “kita”.
Aku sakit kau tinggal begini, tertahan disini.
END-
Aku cemburu pada hujan yang menahannya, hujan yang memberikan ku jarak yang membuat terasa semakin jauh dan tawa yang dia bagi untuk hujan. Hujan hujan hujan hujan. Seperti seperti seperti. Aku tak ingin memberimu judul.
Kau . .
Hujan itu ramai, menyajikan sejuta cerita sejuta jumlah rintiknya yang ada. Hujan itu meredam panasmu, hujan mendekap angin yang menjadi tempatmu membicrakan tentang semua. Tapi hujan itu hanya sementara, dinginnya tak pasti mampu untuk meredamkanmu karna bahkan kau dapat merasa menjadi tak nyaman.
Pulanglah . . cukupkan, pulanglah pada “kita”.
Aku sakit kau tinggal begini, tertahan disini.
END-
0 komentar:
Posting Komentar