10.5.14

Detak Hati Yang Hilang 3

Standard
sebelumnya di Detak Hati Yang Hilang 2

Hujan yang tak ku taui judulnya itu datang. Membawa dingin semerbak lara, kufikir mendung kemarin tak berlajut menjadi turunnya hujan, sengaja aku tak membawa payung hitamku. Basah kering dingin bahagia ataupun lara ingin ku rasakan langsung biar menyentuh tubuh.

Apa benar yang kurasa samar ini adalah benarnya. Langit menceritakan berbagai cerita sejak lalu, sejak aku putuskan memberanikan untuk menatapnya. Detik yang terus berjalan aku belum temui lelahnya, namun dedaunan disekitar mulai menguning gugur dan pepohonan atau tanaman merambat itu mulai melayu. Wangi aroma bunga tak sepenuh seperti biasanya.
Dari kejauhan mulai terdengar derap hujan yang mulai jatuh, seperti derap sekelompok kuda liar yang sedang melakukan perjalan untuk migrasi.
Setengah cerita langit kemarin tak ku dengarkan sepenuhnya, aku mulai takut aku mulai khawatir, teringat ia yang membuat suatu beda. Langit ceritakan padaku tentang rindunya, tantang hilangnya penyangga ia mulai melelah dan sesekali ia hingga dekat dengan permukaan daratan. Aku tau itu, saat itu saat langit menurun aku sedang duduk diatas bukit dekat cekung. Kami sedang memikirkan hal yang tak jauh berbeda ternyata.

Bulir bulir air itu bulan lalu tlah berhasil memenuhi cekungan tanah disudut lapangnya sisi. Segenapnya membawakan bahagia pada daratan ini di setiap kejatuhan. Tiap jatuhannya mendamaikanku waktu itu, membuatku kembali memiliki kenangan yang sempat hendak menghilang. Ketika itu. .

bersambung


Selanjutnya di minggu depan. .

0 komentar: