sebelumnya di Detak Hati Yang Hilang 2
Hujan
yang tak ku taui judulnya itu datang. Membawa dingin semerbak lara,
kufikir mendung kemarin tak berlajut menjadi turunnya hujan, sengaja
aku tak membawa payung hitamku. Basah kering dingin bahagia ataupun
lara ingin ku rasakan langsung biar menyentuh tubuh.
Apa
benar yang kurasa samar ini adalah benarnya. Langit menceritakan
berbagai cerita sejak lalu, sejak aku putuskan memberanikan untuk
menatapnya. Detik yang terus berjalan aku belum temui lelahnya, namun
dedaunan disekitar mulai menguning gugur dan pepohonan atau tanaman
merambat itu mulai melayu. Wangi aroma bunga tak sepenuh seperti
biasanya.
Dari
kejauhan mulai terdengar derap hujan yang mulai jatuh, seperti derap
sekelompok kuda liar yang sedang melakukan perjalan untuk migrasi.
Setengah
cerita langit kemarin tak ku dengarkan sepenuhnya, aku mulai takut
aku mulai khawatir, teringat ia yang membuat suatu beda. Langit
ceritakan padaku tentang rindunya, tantang hilangnya penyangga ia
mulai melelah dan sesekali ia hingga dekat dengan permukaan daratan.
Aku tau itu, saat itu saat langit menurun aku sedang duduk diatas
bukit dekat cekung. Kami sedang memikirkan hal yang tak jauh berbeda
ternyata.
Bulir
bulir air itu bulan lalu tlah berhasil memenuhi cekungan tanah
disudut lapangnya sisi. Segenapnya membawakan bahagia pada daratan
ini di setiap kejatuhan. Tiap jatuhannya mendamaikanku waktu itu,
membuatku kembali memiliki kenangan yang sempat hendak menghilang.
Ketika itu. .
bersambung
Selanjutnya di minggu depan. .
bersambung
Selanjutnya di minggu depan. .
0 komentar:
Posting Komentar