Senja itu beralih malam. Aku melihat dengan tatap kosong.
Lembayung berwarna oranye semu ungu langit memberi kesan penambah bimbang aku
yang sedang menatap kosong. Kudengar hanya suara burung camar dan debur ombak
yang masih setia dalam kosongku. Meski disekitarku ada banyak riuh orang saling
melempar dan memandang lambaian hangat yang mulai mendingin dari matahari yang
mulai beradu dengan waktu. Diam ini yang masih setia denganku, tak ada tawa
yang saling mengisi diantara dialog-dialog kala senja mulai pergi seperti
biasa. Senja mulai terasa berbeda sejak kemarin, sejak keputusan kepergianmu ke
singapur untuk studi lanjutanmu.
Seperti katamu aku harus belajar terbiasa tanpamu, meski
terbatas dalam tatap nyata namun kau selalu berusaha menguatkan keyakinanku
bahwa semua ini akan berakhir dengan pertemuan yang indah, meski itu harus
dibayar mahal oleh sebuah kesabaran. Aku masih belum bisa sepenuhnya rela
melepasmu pergi, aku masih ingin denganmu lebih lama sebelum kau pergi. Aku
masih menginginkan berlamaan duduk berdua denganmu, menyaksikan bagaimana
pertunjukan langit udara dan semua saling membuat takjub.
Tanpa kusadari tanganku mulai membasah karna mencairnya es
krim, dua hari yang lalu es krim ini juga yang menemani pertemuan terakhir kita
sebelum kau pergi. Aku masih sempat untuk meledekmu dengan mengoleskan es krim
ini ke hidungmu yang mancung itu dan kau selalu tersenyum saja meski itu
mungkin mengesalkan untukmu. Kini aku sedang sangat merindukan tatapan teduh
dari balik kacamata milikmu. Tatapan yang selalu membuatku merasakan nyaman dan
degupan rasa cinta dalam hati. “Padahal baru satu hari..” dalam batinku. Ku
putuskan merogoh saku jaketku untuk mengambil ponsel. Pukul 17.30, ada satu
pesan dan satu pangggilan, aku tak sadari itu karna terlalu asik melarut dalam
khayalku yang sedang merindukanmu. Semua notifikasi itu darimu, ku buka pesan
singkat yang kau kirim untukku. Aku tersenyum tanpa menunggu untuk tarikan
nafas selanjutnya terburu membalas pesan darimu. Dari daratan yang terpisah
kami sedang melakukan hal yang sama ternyata. Melamunkan kita dengan satu
scoupe es krim vanilla ditangan dan senja yang masih menari dengan
lembayungnya.
Setiap enam bulan sekali katamu kau akan pulang dan
menemuiku. Dan 3 Minggu saja waktu yang ada untuk kita bertemu di nusantara
ini. Kepergianmu untuk kita katamu, aku melirik ke jari manis kiriku yang tlah
melingkar cincin darimu dua hari yang lalu. Selain ku yang kau cintai adalah
rancangan , arsitektur bangunan, tata tempat dn ruang. Kau mengejarnya untuk
memapankan hidupmu untuk kita nanti bersama.
Aku hanya bisa menantimu saat ini hingga esok dan seterusnya
hingga kau kembali. Antara kita hanya bisa saling memercayai sebuah kepercayaan
pada setia yang dalam nyata hanya terlihat semu, aku tak bisa melihatmu dan begitu
juga sebaliknya apa bisa terjadi. Namun kembali lagi hatiku berkata untuk
memercayai setia itu. Juga seperti pintamu sebelum kita berpisah.
Kini senja tlah beralih malam, debur suara ombak tak
menggelora seperti waktu senja tadi. Ku letakkan kembali ponselku dalam tas
untuk mengambil kunci mobilku. Kuputuskan tuk kembali ke apartemen dan bersapa
denganmu melalui dunia maya. Kau
merindukanku katamu, dan aku sangat merindukanmu kataku.
0 komentar:
Posting Komentar