16.6.13

Senja dan Dirimu

Standard
Senja itu beralih malam. Aku melihat dengan tatap kosong. Lembayung berwarna oranye semu ungu langit memberi kesan penambah bimbang aku yang sedang menatap kosong. Kudengar hanya suara burung camar dan debur ombak yang masih setia dalam kosongku. Meski disekitarku ada banyak riuh orang saling melempar dan memandang lambaian hangat yang mulai mendingin dari matahari yang mulai beradu dengan waktu. Diam ini yang masih setia denganku, tak ada tawa yang saling mengisi diantara dialog-dialog kala senja mulai pergi seperti biasa. Senja mulai terasa berbeda sejak kemarin, sejak keputusan kepergianmu ke singapur untuk studi lanjutanmu.

Seperti katamu aku harus belajar terbiasa tanpamu, meski terbatas dalam tatap nyata namun kau selalu berusaha menguatkan keyakinanku bahwa semua ini akan berakhir dengan pertemuan yang indah, meski itu harus dibayar mahal oleh sebuah kesabaran. Aku masih belum bisa sepenuhnya rela melepasmu pergi, aku masih ingin denganmu lebih lama sebelum kau pergi. Aku masih menginginkan berlamaan duduk berdua denganmu, menyaksikan bagaimana pertunjukan langit udara dan semua saling membuat takjub.
Tanpa kusadari tanganku mulai membasah karna mencairnya es krim, dua hari yang lalu es krim ini juga yang menemani pertemuan terakhir kita sebelum kau pergi. Aku masih sempat untuk meledekmu dengan mengoleskan es krim ini ke hidungmu yang mancung itu dan kau selalu tersenyum saja meski itu mungkin mengesalkan untukmu. Kini aku sedang sangat merindukan tatapan teduh dari balik kacamata milikmu. Tatapan yang selalu membuatku merasakan nyaman dan degupan rasa cinta dalam hati. “Padahal baru satu hari..” dalam batinku. Ku putuskan merogoh saku jaketku untuk mengambil ponsel. Pukul 17.30, ada satu pesan dan satu pangggilan, aku tak sadari itu karna terlalu asik melarut dalam khayalku yang sedang merindukanmu. Semua notifikasi itu darimu, ku buka pesan singkat yang kau kirim untukku. Aku tersenyum tanpa menunggu untuk tarikan nafas selanjutnya terburu membalas pesan darimu. Dari daratan yang terpisah kami sedang melakukan hal yang sama ternyata. Melamunkan kita dengan satu scoupe es krim vanilla ditangan dan senja yang masih menari dengan lembayungnya.
Setiap enam bulan sekali katamu kau akan pulang dan menemuiku. Dan 3 Minggu saja waktu yang ada untuk kita bertemu di nusantara ini. Kepergianmu untuk kita katamu, aku melirik ke jari manis kiriku yang tlah melingkar cincin darimu dua hari yang lalu. Selain ku yang kau cintai adalah rancangan , arsitektur bangunan, tata tempat dn ruang. Kau mengejarnya untuk memapankan hidupmu untuk kita nanti bersama.
Aku hanya bisa menantimu saat ini hingga esok dan seterusnya hingga kau kembali. Antara kita hanya bisa saling memercayai sebuah kepercayaan pada setia yang dalam nyata hanya terlihat semu, aku tak bisa melihatmu dan begitu juga sebaliknya apa bisa terjadi. Namun kembali lagi hatiku berkata untuk memercayai setia itu. Juga seperti pintamu sebelum kita berpisah.

Kini senja tlah beralih malam, debur suara ombak tak menggelora seperti waktu senja tadi. Ku letakkan kembali ponselku dalam tas untuk mengambil kunci mobilku. Kuputuskan tuk kembali ke apartemen dan bersapa denganmu melalui dunia  maya. Kau merindukanku katamu, dan aku sangat merindukanmu kataku.

0 komentar: