18.6.13

Move On

Standard
"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @ _PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film" Cinta Dalam Kardus "yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013." 


Kebimbangan dalam hatiku tak kunjung juga menjawab atas semua pertanyaan. Kesedihan yang makin terasa, perasaan yang terombang ambing dan waktu yang kian menguntit membawakan pisau yang siap menghunus. Atau akan menjadi lain cerita, waktu akan memberikan sapuan lembutnya untuk memberikan ketenangan dalam gemuruhnya batin yang risau.
Semua terasa seperti sebuah simalakama, ku laju waktu yang lalu dengan putaran waktu saat ini. Berjuang tetap bertahan melawan cinta lain yang baru. Tak mudah bukan bagimu untuk tak membiasakan diri dengan cinta barumu itu. Dan membiasakan lagi dengan hadirnya diriku yang pernah membuatmu berdarah waktu itu.
Bertahan dengan detik ini, tanpa ku lakukan apapun aku tak bisa. Aku hanya aliran dunamis yang tak dapat terus stagnan bertahan dalam kakunya detik waktu yang berdetak. Bukan aku yang ingin kan semua berakhir, bukan aku yang menginginkanmu untuk meninggalkanku.
Dan kebimbangan, aku mencoba melepas nyawaku, melupakan tubuhku ketika melihatmu, agar laranya tak kurasa kembali. Masihkah aku harus berjuang ketika aku merasa ini semua seharusnya berakhir? Dan mundur dari sengitnya laga dihatimu. Masihkan aku mampu untuk ini semua? Ketika tak ada lagi sebuah pasti. Hanya kebimbangan ini lagi yang setia menjawab semua tanya. Dan simalakama yang menuntunku menjalani hidup ini ketika terhadap sosok dirimu. Tak ada tanya tak ada jawab, tak ada kata yang saling berpagut. Kini kau hanya menganggapku pelengkap kesenanganmu yang tak dapat kau jumpai di sosoknya yang baru. Yang kau gadang menjadi penggantiku.
Cinta memang indah, namun aku bukanlah hamba yang setia dari sebuah perasaan. Kini fikiran itulah yang meracuni otak dan rasaku.
Malam ini kuputuskan untuk merelakanmu (lagi). Aku mulai berfikir bahwa yang kulakukan adalah keliru. Seperti masih mengharapkan terlalu tinggi, seperti mengharap cinta darimu untukku. Dan hanya kita berdua dalam dunia masing-masing untuk saling mengisi.
Kini aku mencoba mengais sisa bahagia yang dapat kutemui disepanjang jalan reruntuhan ini. Meski serpih yang ku dapati, ku harap aku masih bisa tersenyum, mengisi kehidupan nyata yang kujalani.
Mencoba melepasmu, mencoba melepas segala yang menujumu untuk tak ku hubungkan denganmu. Makin waktu berjalan sepertinya jodoh memang belum menyatukan kita. Dengan cara yang sangat halus kali ini ia beritahu pertanda yang ada. Seperti takdir yang disebut kebetulan selalu memperdengarkan sepertinya kau dan aku ada satu hal yang membuat terhubung.
Hanya senyuman dan sisip kecil bahasa dari tiap kerling yang kulihat. Dan hanya begitulah yang terjadi ketika kita bertemu.
Andai dapat ku manipulasi hatimu, akan ku lakukan itu. Tapi hatimu adalah milikmu. Sudah tak ada lagi alasan untukku mencipta lagi cinta karna hatimu yang mulai mencipta cinta untuk dia yang baru. Sungguh aku menggila dengan ini semua. Hanya karna dirimu aku bisa melupakan semua tentang dunia ini bahkan hidupku.
Kuucapkan selamat tinggal untukku pengisi hati terindahku. Kuucapkan juga terima kasih atas segala yang telah kau berikan untukku, yang takkan bisa ku balas itu semua. Dan maaf atas semua yang telah kulakukan padamu, yang telah membuatmu menghilang yang telah membuatmu berpaling pergi dan makin membuat lara jiwaku yang masih menyimpan cinta untukmu. Kurelakan semua agar kubisa kembali hidup bernafas tanpamu.. menjadi bagian yang akan terlupa olehmu. . .

0 komentar: