Kebimbangan
dalam hatiku tak kunjung juga menjawab atas semua pertanyaan. Kesedihan yang
makin terasa, perasaan yang terombang ambing dan waktu yang kian menguntit
membawakan pisau yang siap menghunus. Atau akan menjadi lain cerita, waktu akan
memberikan sapuan lembutnya untuk memberikan ketenangan dalam gemuruhnya batin
yang risau.
Bertahan
dengan detik ini, tanpa ku lakukan apapun aku tak bisa. Aku hanya aliran
dunamis yang tak dapat terus stagnan bertahan dalam kakunya detik waktu yang berdetak.
Bukan aku yang ingin kan semua berakhir, bukan aku yang menginginkanmu untuk
meninggalkanku.
Dan
kebimbangan, aku mencoba melepas nyawaku, melupakan tubuhku ketika melihatmu,
agar laranya tak kurasa kembali. Masihkah aku harus berjuang ketika aku merasa
ini semua seharusnya berakhir? Dan mundur dari sengitnya laga dihatimu. Masihkan aku mampu untuk ini semua? Ketika tak ada lagi sebuah pasti. Hanya kebimbangan
ini lagi yang setia menjawab semua tanya. Dan simalakama yang menuntunku
menjalani hidup ini ketika terhadap sosok dirimu. Tak ada tanya tak ada jawab,
tak ada kata yang saling berpagut. Kini kau hanya menganggapku pelengkap
kesenanganmu yang tak dapat kau jumpai di sosoknya yang baru. Yang kau gadang menjadi
penggantiku.
Cinta
memang indah, namun aku bukanlah hamba yang setia dari sebuah perasaan. Kini fikiran
itulah yang meracuni otak dan rasaku.
Malam
ini kuputuskan untuk merelakanmu (lagi). Aku mulai berfikir bahwa yang
kulakukan adalah keliru. Seperti masih mengharapkan terlalu tinggi, seperti
mengharap cinta darimu untukku. Dan hanya kita berdua dalam dunia masing-masing
untuk saling mengisi.
Kini
aku mencoba mengais sisa bahagia yang dapat kutemui disepanjang jalan
reruntuhan ini. Meski serpih yang ku dapati, ku harap aku masih bisa tersenyum, mengisi kehidupan nyata yang kujalani.
Mencoba
melepasmu, mencoba melepas segala yang menujumu untuk tak ku hubungkan denganmu.
Makin waktu berjalan sepertinya jodoh memang belum menyatukan kita. Dengan cara
yang sangat halus kali ini ia beritahu pertanda yang ada. Seperti takdir yang
disebut kebetulan selalu memperdengarkan sepertinya kau dan aku ada satu hal
yang membuat terhubung.
Hanya
senyuman dan sisip kecil bahasa dari tiap kerling yang kulihat. Dan hanya
begitulah yang terjadi ketika kita bertemu.
Andai
dapat ku manipulasi hatimu, akan ku lakukan itu. Tapi hatimu adalah milikmu. Sudah
tak ada lagi alasan untukku mencipta lagi cinta karna hatimu yang mulai
mencipta cinta untuk dia yang baru. Sungguh aku menggila dengan ini semua. Hanya
karna dirimu aku bisa melupakan semua tentang dunia ini bahkan hidupku.
Kuucapkan
selamat tinggal untukku pengisi hati terindahku. Kuucapkan juga terima kasih
atas segala yang telah kau berikan untukku, yang takkan bisa ku balas itu
semua. Dan maaf atas semua yang telah kulakukan padamu, yang telah membuatmu
menghilang yang telah membuatmu berpaling pergi dan makin membuat lara jiwaku
yang masih menyimpan cinta untukmu. Kurelakan semua agar kubisa kembali hidup
bernafas tanpamu.. menjadi bagian yang akan terlupa olehmu. . .
0 komentar:
Posting Komentar