“Josh. . .” panggil mr christopher ditengah- tengah suasana
makan malam. “Iya ayah. .”. “Besok ayah akan melatihmu, untuk mempersiapkan
perekrutan conquerror dan aggressor yang akan datang”. Seketika ruang makan itu
hening, tak ada lagi suara dentang antara sendok dengan garpu atau sendok
dengan piring. “Baiklah ayah.. aku menuruti kemauan ayah, “. “Besok akan ayah
ajarkan agar kau bisa lolos seleksi itu, dengan kemampuanmu sendiri dan
berlatihlah dengan sungguh – sungguh, ayah ingin kau menjadi conqueror tak
hanya sebagai aggressor seperti ayah”.
Malam itu terasa berat untuk josh, ia merasa tak yakin meski
sebenarnya ia pun mnginkan menjadi seorang yang hebat yang nantinya akan
bertugas untuk membela negaranya. Ia melihat ke dua tangannya, “apa yang dapat
ku lakukan..”
Kegelisahannya ini disebabkan oleh josh yang tak bisa
mengendalikan kekuatannya sendiri. Kekuatan yang ada pada dirinya yang begitu
hebat itu belum bisa ia kendalikan karna ia belum menemukan cara agar dapat
mengendalikan kekuatannya itu. Ayahnya hanya selalu berpesan apa yang ada dalam
diri semua terkendali dari atas dan dari bagian penghidup diri. Kalimat itu
hingga saat ini tak bisa josh artikan. Ia mendengus kesal dan merasa tak bisa
tidur karna ini. Ia tau sebentar lagi perekrutan itu akan segera terlaksana.
Apalagi berita dari kerajaan tentang wilayah utara yang akan di bangun sebagai
pusat pengembangan para conqueror dan aggressor. Ia hanya bisa berharap dapat
segera membuka teka teki yang ayahnya berikan padanya. Agar ia dapat segera
berlatih dan mengolah kekuatannya agar lebih baik lagi.
Ia melihat ke arah luar, purnama sedang bersinar dengan
indah menghias langit malam itu, sudah lart dan ia tetap belum bisa menutup
matanya. Kamarnya yang berada di lantai atas membuat ia dapat melihat
pemandangan malam yang menakjubkan dengan lebih leluasa bintang di langit
bersinar menyebar sejauh mata memandang. “BRIONS” ia katakan kata magic itu
dengan membuka tangannya, seketika cahaya biru keluar dari tangannya. Ia
memandang dengan pandangan kosong ke arah cahaya biru yang ia ciptakan itu. Dan
setelah beberapa saat cahaya itu redup dan josh pun kaget. Kamarnya kembali
gelap lagi hanya remang karna pantulan cahaya purnama dan bintang – bintang
yang masuk dalam ruangan kamarnya. Ia putuskan untuk rebahkan diri dan memejamkan
matanya, sambil berharap ia bisa tertidur meski sejenak. Dan berharap bisa
segera memecahkan teka teki ayahnya dan akan mendapat sedikit saja omelan dari
ayahnya besok saat latihan pertamanya.
0 komentar:
Posting Komentar