2.2.13

3. Tentang Josh

Standard

“Josh. . .” panggil mr christopher ditengah- tengah suasana makan malam. “Iya ayah. .”. “Besok ayah akan melatihmu, untuk mempersiapkan perekrutan conquerror dan aggressor yang akan datang”. Seketika ruang makan itu hening, tak ada lagi suara dentang antara sendok dengan garpu atau sendok dengan piring. “Baiklah ayah.. aku menuruti kemauan ayah, “. “Besok akan ayah ajarkan agar kau bisa lolos seleksi itu, dengan kemampuanmu sendiri dan berlatihlah dengan sungguh – sungguh, ayah ingin kau menjadi conqueror tak hanya sebagai aggressor seperti ayah”.
Malam itu terasa berat untuk josh, ia merasa tak yakin meski sebenarnya ia pun mnginkan menjadi seorang yang hebat yang nantinya akan bertugas untuk membela negaranya. Ia melihat ke dua tangannya, “apa yang dapat ku lakukan..”
Kegelisahannya ini disebabkan oleh josh yang tak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Kekuatan yang ada pada dirinya yang begitu hebat itu belum bisa ia kendalikan karna ia belum menemukan cara agar dapat mengendalikan kekuatannya itu. Ayahnya hanya selalu berpesan apa yang ada dalam diri semua terkendali dari atas dan dari bagian penghidup diri. Kalimat itu hingga saat ini tak bisa josh artikan. Ia mendengus kesal dan merasa tak bisa tidur karna ini. Ia tau sebentar lagi perekrutan itu akan segera terlaksana. Apalagi berita dari kerajaan tentang wilayah utara yang akan di bangun sebagai pusat pengembangan para conqueror dan aggressor. Ia hanya bisa berharap dapat segera membuka teka teki yang ayahnya berikan padanya. Agar ia dapat segera berlatih dan mengolah kekuatannya agar lebih baik lagi.

Ia melihat ke arah luar, purnama sedang bersinar dengan indah menghias langit malam itu, sudah lart dan ia tetap belum bisa menutup matanya. Kamarnya yang berada di lantai atas membuat ia dapat melihat pemandangan malam yang menakjubkan dengan lebih leluasa bintang di langit bersinar menyebar sejauh mata memandang. “BRIONS” ia katakan kata magic itu dengan membuka tangannya, seketika cahaya biru keluar dari tangannya. Ia memandang dengan pandangan kosong ke arah cahaya biru yang ia ciptakan itu. Dan setelah beberapa saat cahaya itu redup dan josh pun kaget. Kamarnya kembali gelap lagi hanya remang karna pantulan cahaya purnama dan bintang – bintang yang masuk dalam ruangan kamarnya. Ia putuskan untuk rebahkan diri dan memejamkan matanya, sambil berharap ia bisa tertidur meski sejenak. Dan berharap bisa segera memecahkan teka teki ayahnya dan akan mendapat sedikit saja omelan dari ayahnya besok saat latihan pertamanya.



0 komentar: