4.5.13

Sebelas

Standard
Akankah masih sekiranya kau ingat denganku? Aku sebelasmu .Tepat empat tahun yang lalu, apa kabar kau pertamaku? Aku masih teringat tentang kita tiga tahun lalu. Kisah manis, sedih, jengah, pilu, enam bulan kita bersama. Berjuang untuk saling memertahankan yang akhirnya hanya jadi luka lebar yang kini mulai tertutup terobati. Sebelasku. . aku masih selalu mengingat pertemuan kita yang hanya satu kali dalam seminggu. Hubungan kita yang saling jauh karna jarak, aku sangat memahami itu. Senyummu dan raut wajahmu ketika heran masih dapat ku ingat dengan jelas, bahkan bentuk bibirmu yang kau buat aneh itu masih bisa aku menjadi tertawa ketika kau mengetahui hal yang kau rasa aneh untukmu.
Maafkan aku yang waktu itu masih lugu, masih takut, untuk percaya dan menyambut tanganmu membawaku pada duniamu. Mungkinkah salah satu, karna hal ini kita jadi begini?




 Aku masih ingat betapa berjuangnya kamu yang rela terlelah untuk aku. Yang kala itu kamu sedang sibuk dengan persiapan ujian akhirmu, kau melanggar perintah ibumu untuk berpergian, tapi yang kau buat selepas pulang sekolah bukannya kau pulang tapi kau malah ke purwokerto memberi kejutan untukku, kau menjemput tanpa sepengetahuanku, aku kaget dan haru saat melihat kau memakai jaket hitam hijau street ballmu itu dengan berpangku tangan disandar helm, diatas motor variomu sesaat terlelap lalu bangun lagi, aku tersenyum saat kau begitu sabarnya menungguku keluar sekolah.
Kau selalu memberikan senyuman manja itu ketika kita bertemu. Rasanya tak akan ada perpisahan antara kita. Bertengkar? Ah. . . itu tak pernah terjadi antara kita. Aku . . . kamu juga selalu buatku bangga, kau jadi orang penting dalam organisasi disekolahmu. Dan kau ingin aku tahu bahwa kau selalu bisa untuk aku andalkan.
Waktu itu masihkah kau ingt? Kau mengajariku tentang integral, materi yang akan kupelajari nanti saat aku akan kelas tiga. Kamu tau. . . aku sangat bahagia juga terpukul ketika bertemu soal integral. Bahagia... karna aku bangga kamu yang mengajariku tentang ini. Dan terpukul karna kamu sudah bukan lagi pertama yang ku miliki. Juga ulang tahunmu, yang telah mulai kupersiapkan kado manis yang ku harap akan membuatmu kembali tersenyum, namun itu semua kandas menjadi angan.
Kisah kita berakhir. Kamu yang tak bisa merelakan masalalumu untuk hanya tinggal menjadi masalalumu. Kau terobsesi untuk dia menjadi nyata kembali dalam dirimu, dalam hidupmu. Amarah tak bisa aku mengeluarkannya, sebagai tanda protes, bukankah kamu dan aku saling mencinta? Dan aku sangat menyayangimu.. kau bimbang saat itu, dan pilihanmu untuk melepasku adalah hal yang paling membuatku lara. Kamu bahagiaku . . dan kau juga pernah bilang bahwa sebelasmu inilah bahagiamu juga. Tapi mengapa kau lebih memilih mengakhiri kita?, kau bilang tak ingin menyakitiku. Tapi apakah kau pernah mau mengerti dan menyadari. . bahwa selama ini adalah kamu bahagiaku. Bahkan aku pun tak punyai alasan untuk pergi meninggalkan atupun mengakhiri kita.
Tiga tahun yang lalu, dan aku sebelasmu. . .
Satu januari duaribusebelas.

0 komentar: