Maafkan
aku yang waktu itu masih lugu, masih takut, untuk percaya dan menyambut
tanganmu membawaku pada duniamu. Mungkinkah salah satu, karna hal ini kita jadi
begini?
Aku masih ingat betapa berjuangnya kamu yang rela terlelah untuk aku. Yang kala itu kamu sedang sibuk dengan persiapan ujian akhirmu, kau melanggar perintah ibumu untuk berpergian, tapi yang kau buat selepas pulang sekolah bukannya kau pulang tapi kau malah ke purwokerto memberi kejutan untukku, kau menjemput tanpa sepengetahuanku, aku kaget dan haru saat melihat kau memakai jaket hitam hijau street ballmu itu dengan berpangku tangan disandar helm, diatas motor variomu sesaat terlelap lalu bangun lagi, aku tersenyum saat kau begitu sabarnya menungguku keluar sekolah.
Aku masih ingat betapa berjuangnya kamu yang rela terlelah untuk aku. Yang kala itu kamu sedang sibuk dengan persiapan ujian akhirmu, kau melanggar perintah ibumu untuk berpergian, tapi yang kau buat selepas pulang sekolah bukannya kau pulang tapi kau malah ke purwokerto memberi kejutan untukku, kau menjemput tanpa sepengetahuanku, aku kaget dan haru saat melihat kau memakai jaket hitam hijau street ballmu itu dengan berpangku tangan disandar helm, diatas motor variomu sesaat terlelap lalu bangun lagi, aku tersenyum saat kau begitu sabarnya menungguku keluar sekolah.
Kau
selalu memberikan senyuman manja itu ketika kita bertemu. Rasanya tak akan ada
perpisahan antara kita. Bertengkar? Ah. . . itu tak pernah terjadi antara kita.
Aku . . . kamu juga selalu buatku bangga, kau jadi orang penting dalam
organisasi disekolahmu. Dan kau ingin aku tahu bahwa kau selalu bisa untuk aku
andalkan.
Waktu
itu masihkah kau ingt? Kau mengajariku tentang integral, materi yang akan
kupelajari nanti saat aku akan kelas tiga. Kamu tau. . . aku sangat bahagia
juga terpukul ketika bertemu soal integral. Bahagia... karna aku bangga kamu
yang mengajariku tentang ini. Dan terpukul karna kamu sudah bukan lagi pertama
yang ku miliki. Juga ulang tahunmu, yang telah mulai kupersiapkan kado manis
yang ku harap akan membuatmu kembali tersenyum, namun itu semua kandas menjadi
angan.
Kisah
kita berakhir. Kamu yang tak bisa merelakan masalalumu untuk hanya tinggal
menjadi masalalumu. Kau terobsesi untuk dia menjadi nyata kembali dalam dirimu,
dalam hidupmu. Amarah tak bisa aku mengeluarkannya, sebagai tanda protes,
bukankah kamu dan aku saling mencinta? Dan aku sangat menyayangimu.. kau
bimbang saat itu, dan pilihanmu untuk melepasku adalah hal yang paling
membuatku lara. Kamu bahagiaku . . dan kau juga pernah bilang bahwa sebelasmu
inilah bahagiamu juga. Tapi mengapa kau lebih memilih mengakhiri kita?, kau
bilang tak ingin menyakitiku. Tapi apakah kau pernah mau mengerti dan
menyadari. . bahwa selama ini adalah kamu bahagiaku. Bahkan aku pun tak punyai
alasan untuk pergi meninggalkan atupun mengakhiri kita.
Tiga
tahun yang lalu, dan aku sebelasmu. . .
Satu
januari duaribusebelas.
0 komentar:
Posting Komentar