5.5.13

Malam Ini Dan Semua Yang Ada Dalam Benakku

Standard

Malam ini dan semua yang ada dalam benakku. Tiada lagi yang mampu menarik perhatianku kembali. Kubuka dua pintu lemari tempat aku menyimpan buku-buku milikku. Pandanganku akhirnya tertuju pada tumpukan bawah dari buku-buku itu. Sebuah binder yang kupakai sejak aku smp hingga sma. Sampul binder polos warna biru, tebal berisi puluhan kertas koleksiku. Lembar demi lembar kubuka. Mengantarkanku kembali pada cerita lalu saat atasan putih dan biru yang ku kenakan. Ada beberapa halaman yang berisikan data biografi teman dulu. Aku jadi teringat kembali. Kami memiliki ritual siapa saja yang memiliki binder, dia harus memberikan secarik kertas pada teman dekatnya untuk diisikan mengenai dirinya. Ayu, alfi, winda, via, lia, eli, itulah beberapa nama yang memenuhi sebagian bagian dari binder ini. Ku lanjutkan untuk membuka kembali,


 “pemrograman turbo pascal” oh. . . ini waktu aku sudah mengenakan seragam putih abu-abuku. Sekarang pemrograman seperti ini sudah menjadi makanan sehari hari di perkuliahan. Aku masih senyum – senyum saja membaca nya. Kembali ku buka halaman demi halaman, masih banyak kertas dengan banyak motif dan warna yang masih kosong, yaaap.. saat itu aku hobi untuk mengoleksi berbagai kertas yang memiliki bentuk unik. Lembar demi lembar ku buka lagi, kini yang kutemui adalah naskah drama. Aku langsung saja teringat dengan pak sunarko, dia guru bahasa indonesiaku selama di sma. Bosan? Jangan ditanya, tentu saja aku bosan. Aku masih ingat betul bagai mana membosankannya ketika pak narko (sapaannya) mulai mengajar, dengan gayanya yang mengguman, dia lebih suka duduk saat mengajar, dan tipe tulisannya monotype corsiva. Sering kuhabiskan waktuku dalam kelasnya untuk tidur, sma dulu kami diberikan model moving class, setiap akan berganti jam ke pelajaran beliau aku yang paling didepan nutuk dapat mendapatkan kursi bagian belakang. Mungkin aku terlihat bandel, tapi jangan salah.. yang ada aku lah murid yang paling dikenal oleh beliau. Aku termasuk dalam siswa yang mengusai perlajaran yang diberikan beliau. Padahal kerjaku dikelas hanya tidur saja :p
Dan ketikka tugas dari pak narko sudah turun tangan temanku hanya bisa melongo melihat pekerjaanku. Mereka berfikir bagaimana bisa seorang aku yang daritadi kerjanya molor kok bisa ngerjakan soal dan dinilai memuakan oleh pak guru. Ahaha aku hanya bisa senyum meringis saja kepada mereks
Ada rahasia dibalik ini, penasaran? Baiklah akan ku beritau, saat aku tidur aku tak sepenuhnya tidur, hanya mataku saja yang terpejam. Tapi telinga dan otakku yang berjalan. Itu lebih efisien daripada kamu tegang merhatiin guru ngedumel di depan. Tidur dikelas merupakan acara yang menyenangkan, karna kebiasaanku begadang yang sering waktunya kuhabiskan diwarnet dekat rumah. Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan mereka, sehingga aku bebas melakukan apa yang ingin ku lakukan, soal uang ah itu bukan masalah untuku. Orangtuaku tak pernah protes dengan kelakuanku. Itu semua karna nilai akademikku memuaskan hingga akhir, meski waktu dipertengahan penjurusan orang tuaku sempat kaget karna aku lebih memilih untuk masuk jurusan IPS. Kembali di naskah drama, aku ingat jelas itu untuk tugas akhir semester. Waktu itu aku masih kelas sebelas (2 sma) aku menulis naskah itu sepulang sekolah, di bagian belakang sekolah tepatnya di depan lab TIK. Kursi panjang itu yang menemani ku menulis naskah ini. Dalam naskah ini berisi tentang kepedulian dengan keluarga, persahabatan, takdir, dan kuasa tuhan. Inka adalah nama tokoh utamanya. Tentu saja peran utamanya aku yang dapat. Itu adalah tugas kelompok setelah naskah selesai esoknya kami latihan. Butuh waktu 4 hari untuk latihan. Namun yang membuat jengkel saat itu adalah penundaan kelompok kami untuk maju, karna pak narko mulai sering sibuk untuk keluar dengan urusannya.
Aku masih betah dengan senyumku sambil membuka lagi lembaran berikutnya.
Hingga terpaksa aku menghentikan senyum bibirku ketika sampai pada halaman terakhir dari binder ini. Satu halaman ada tulisan samar dengan gaya italic ditulis dengan pensil olehku disana. Aku mencoba kembali mengingat, kapan aku membuat tulisan ini. Akhirnya dengan terbata aku membaca tulisannya, ternyata itu puisi dan sebuah prosa dibaliknya. Keduanya sedang berbicara tentang cinta. Ah anganku tak dapat beranjak untuk membayangkan masalalu yang mengisi hati dulu. Yang menarik perhatianku, prosa itu. Aku seketika sedih membacanya, meski aku tak ingat betul untuk siapa tulisan itu. Namun jika ku rasakan kembali, cinta waktu itu berat. Mencintai dengan sangat penuh untuk lara dan berjuang, tanpa tahu apakah yang diperjuangkan itu mengerti dan memiliki cinta yang sama besar dengan diri atau tidak.
Setelah bertahun tahun kini aku menyadari, bahwa yang seperti itu bukanlah cinta. Dan seorang yang ada dalam tulisanku itu.. dia tidaklah mencintaiku dengan kesungguhan. Kini aku sudah mengerti bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang dengan rasa kesungguhan dan ketulusan. Dia tidak pernah meminta kita untuk melakukan apapun, karna dia merasa cukup dengan adanya kita itulah bahagia untuk dia. Dia tidak pernah meragukan kita, karna dia telah percaya sepenuhnya bahwa cinta antara dia dan kita tidak akan bisa jadi jika tidak didasari saling percaya. Dia yang sangat berjuang untuk kita, dia tak ingin melihat kita jatuh, terlelah, bosan. Dia selalu menjadi sosok yang membuat kita membutuhkannya. Kita  atau aku hanya cukup menjaga apa yang dia beri, apa yang dia perbuat, dan menjaga hati dan rasa kita untuk dia. Tetap membuat dia bahagia, membuat dia tersenyum. Meski itu dengan cara yang sederhana.
Tiba saja ide untuk menulis hadir dalam fikirku, ku mulai kembali tulisan baruku. Ku sambut fajar dengan laptop dan aktifitas menulisku. Sambil mengenangmu yang hanya bisa memanggilmu dengan lirih dalam hati. 

0 komentar: