Malam ini dan semua yang ada dalam benakku. Tiada
lagi yang mampu menarik perhatianku kembali. Kubuka dua pintu lemari tempat aku
menyimpan buku-buku milikku. Pandanganku akhirnya tertuju pada tumpukan bawah
dari buku-buku itu. Sebuah binder yang kupakai sejak aku smp hingga sma. Sampul
binder polos warna biru, tebal berisi puluhan kertas koleksiku. Lembar demi
lembar kubuka. Mengantarkanku kembali pada cerita lalu saat atasan putih dan
biru yang ku kenakan. Ada beberapa halaman yang berisikan data biografi teman
dulu. Aku jadi teringat kembali. Kami memiliki ritual siapa saja yang memiliki
binder, dia harus memberikan secarik kertas pada teman dekatnya untuk diisikan
mengenai dirinya. Ayu, alfi, winda, via, lia, eli, itulah beberapa nama yang
memenuhi sebagian bagian dari binder ini. Ku lanjutkan untuk membuka kembali,
“pemrograman turbo pascal” oh. . . ini waktu aku sudah mengenakan seragam putih abu-abuku. Sekarang pemrograman seperti ini sudah menjadi makanan sehari hari di perkuliahan. Aku masih senyum – senyum saja membaca nya. Kembali ku buka halaman demi halaman, masih banyak kertas dengan banyak motif dan warna yang masih kosong, yaaap.. saat itu aku hobi untuk mengoleksi berbagai kertas yang memiliki bentuk unik. Lembar demi lembar ku buka lagi, kini yang kutemui adalah naskah drama. Aku langsung saja teringat dengan pak sunarko, dia guru bahasa indonesiaku selama di sma. Bosan? Jangan ditanya, tentu saja aku bosan. Aku masih ingat betul bagai mana membosankannya ketika pak narko (sapaannya) mulai mengajar, dengan gayanya yang mengguman, dia lebih suka duduk saat mengajar, dan tipe tulisannya monotype corsiva. Sering kuhabiskan waktuku dalam kelasnya untuk tidur, sma dulu kami diberikan model moving class, setiap akan berganti jam ke pelajaran beliau aku yang paling didepan nutuk dapat mendapatkan kursi bagian belakang. Mungkin aku terlihat bandel, tapi jangan salah.. yang ada aku lah murid yang paling dikenal oleh beliau. Aku termasuk dalam siswa yang mengusai perlajaran yang diberikan beliau. Padahal kerjaku dikelas hanya tidur saja :p
“pemrograman turbo pascal” oh. . . ini waktu aku sudah mengenakan seragam putih abu-abuku. Sekarang pemrograman seperti ini sudah menjadi makanan sehari hari di perkuliahan. Aku masih senyum – senyum saja membaca nya. Kembali ku buka halaman demi halaman, masih banyak kertas dengan banyak motif dan warna yang masih kosong, yaaap.. saat itu aku hobi untuk mengoleksi berbagai kertas yang memiliki bentuk unik. Lembar demi lembar ku buka lagi, kini yang kutemui adalah naskah drama. Aku langsung saja teringat dengan pak sunarko, dia guru bahasa indonesiaku selama di sma. Bosan? Jangan ditanya, tentu saja aku bosan. Aku masih ingat betul bagai mana membosankannya ketika pak narko (sapaannya) mulai mengajar, dengan gayanya yang mengguman, dia lebih suka duduk saat mengajar, dan tipe tulisannya monotype corsiva. Sering kuhabiskan waktuku dalam kelasnya untuk tidur, sma dulu kami diberikan model moving class, setiap akan berganti jam ke pelajaran beliau aku yang paling didepan nutuk dapat mendapatkan kursi bagian belakang. Mungkin aku terlihat bandel, tapi jangan salah.. yang ada aku lah murid yang paling dikenal oleh beliau. Aku termasuk dalam siswa yang mengusai perlajaran yang diberikan beliau. Padahal kerjaku dikelas hanya tidur saja :p
Dan ketikka tugas dari pak narko sudah turun tangan
temanku hanya bisa melongo melihat pekerjaanku. Mereka berfikir bagaimana bisa
seorang aku yang daritadi kerjanya molor kok bisa ngerjakan soal dan dinilai
memuakan oleh pak guru. Ahaha aku hanya bisa senyum meringis saja kepada mereks
Ada rahasia dibalik ini, penasaran? Baiklah akan ku
beritau, saat aku tidur aku tak sepenuhnya tidur, hanya mataku saja yang
terpejam. Tapi telinga dan otakku yang berjalan. Itu lebih efisien daripada
kamu tegang merhatiin guru ngedumel di depan. Tidur dikelas merupakan acara
yang menyenangkan, karna kebiasaanku begadang yang sering waktunya kuhabiskan
diwarnet dekat rumah. Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan mereka, sehingga
aku bebas melakukan apa yang ingin ku lakukan, soal uang ah itu bukan masalah
untuku. Orangtuaku tak pernah protes dengan kelakuanku. Itu semua karna nilai
akademikku memuaskan hingga akhir, meski waktu dipertengahan penjurusan orang
tuaku sempat kaget karna aku lebih memilih untuk masuk jurusan IPS. Kembali di
naskah drama, aku ingat jelas itu untuk tugas akhir semester. Waktu itu aku
masih kelas sebelas (2 sma) aku menulis naskah itu sepulang sekolah, di bagian
belakang sekolah tepatnya di depan lab TIK. Kursi panjang itu yang menemani ku
menulis naskah ini. Dalam naskah ini berisi tentang kepedulian dengan keluarga,
persahabatan, takdir, dan kuasa tuhan. Inka adalah nama tokoh utamanya. Tentu
saja peran utamanya aku yang dapat. Itu adalah tugas kelompok setelah naskah
selesai esoknya kami latihan. Butuh waktu 4 hari untuk latihan. Namun yang
membuat jengkel saat itu adalah penundaan kelompok kami untuk maju, karna pak
narko mulai sering sibuk untuk keluar dengan urusannya.
Aku masih betah dengan senyumku sambil membuka lagi
lembaran berikutnya.
Hingga terpaksa aku menghentikan senyum bibirku
ketika sampai pada halaman terakhir dari binder ini. Satu halaman ada tulisan
samar dengan gaya italic ditulis dengan pensil olehku disana. Aku mencoba
kembali mengingat, kapan aku membuat tulisan ini. Akhirnya dengan terbata aku
membaca tulisannya, ternyata itu puisi dan sebuah prosa dibaliknya. Keduanya
sedang berbicara tentang cinta. Ah anganku tak dapat beranjak untuk
membayangkan masalalu yang mengisi hati dulu. Yang menarik perhatianku, prosa
itu. Aku seketika sedih membacanya, meski aku tak ingat betul untuk siapa
tulisan itu. Namun jika ku rasakan kembali, cinta waktu itu berat. Mencintai
dengan sangat penuh untuk lara dan berjuang, tanpa tahu apakah yang
diperjuangkan itu mengerti dan memiliki cinta yang sama besar dengan diri atau
tidak.
Setelah bertahun tahun kini aku menyadari, bahwa
yang seperti itu bukanlah cinta. Dan seorang yang ada dalam tulisanku itu.. dia
tidaklah mencintaiku dengan kesungguhan. Kini aku sudah mengerti bagaimana
rasanya dicintai oleh seseorang dengan rasa kesungguhan dan ketulusan. Dia
tidak pernah meminta kita untuk melakukan apapun, karna dia merasa cukup dengan
adanya kita itulah bahagia untuk dia. Dia tidak pernah meragukan kita, karna
dia telah percaya sepenuhnya bahwa cinta antara dia dan kita tidak akan bisa
jadi jika tidak didasari saling percaya. Dia yang sangat berjuang untuk kita,
dia tak ingin melihat kita jatuh, terlelah, bosan. Dia selalu menjadi sosok
yang membuat kita membutuhkannya. Kita
atau aku hanya cukup menjaga apa yang dia beri, apa yang dia perbuat,
dan menjaga hati dan rasa kita untuk dia. Tetap membuat dia bahagia, membuat
dia tersenyum. Meski itu dengan cara yang sederhana.
Tiba saja ide untuk menulis hadir dalam fikirku, ku
mulai kembali tulisan baruku. Ku sambut fajar dengan laptop dan aktifitas
menulisku. Sambil mengenangmu yang hanya bisa memanggilmu dengan lirih dalam hati.
0 komentar:
Posting Komentar