beranjak kemanapun kamu, aku masih bisa seperti bayang yang akan menempel waktu sinar datang dari arah berlawan. resahmu masih menggelitik buatku.
kamu balut dengan tawa, kalimat panjang, tanya, dan aku sedang tak jatuh cinta. jika tolak ukurnya adalah indahnya kata yang terangkai, aku benar tak sedang jatuh cinta. lalu menurutmu, jika ku jatuh cintaimu akankah terjadi juga sebaliknya padamu...
kamu balut dengan tawa, kalimat panjang, tanya, dan aku sedang tak jatuh cinta. jika tolak ukurnya adalah indahnya kata yang terangkai, aku benar tak sedang jatuh cinta. lalu menurutmu, jika ku jatuh cintaimu akankah terjadi juga sebaliknya padamu...
Dan aku menantangmu untuk jatuh cintaiku sepenuhnya, jangan dibagi dengan yang lain.
Mana yang diawali dahulu, pagi atau malam? entah, dan terserah mana yang terjadi terlebih dulu. yang jelas aku tak suka keresahanmu. resahmu indah, aku tak mengerti kau apakan atau kau sembunyikan dengan algoritma apa hingga resah pada matamu itu nyaris tersembunyi rapih. aku myukai algoritmanya.
Jika yang ada di matamu mampu ku buka dengan menatap, lalu resahmu sedikit kan ku buka dengan kata yang kumiliki. seperti keyword yang kumasukkan pada mesin pencari dan gerak tubuhmu mengeluarkannya.
Kamu masih mencoba, mencoba untuk yang mana? sayangnya kau layaknya koran. banyak artikel kecil dengan susunan disana sini menjadi satu. tak semudah itu untuk langsung mengerti, apalagi dengan artikel resahmu yang terpotong dan melompat ke halaman yang lain. di banding seperti aku yang terbaca layaknya majalah. kertasnya lebih tebal, lebih berwarna, satu lembar untuk satu artikel.
bersambung
0 komentar:
Posting Komentar