Dua hari yang lalu awan datang
dengan cara yang tak biasa, mungkin karna angin juga turut berubah oleh
kehangatan yang ada dipermukaan berkurang atau entahlah. Aku yang melihatnya
sedikit aneh, udara lebih terasa dingin dari biasanya. Dan itu semua bersamaan
dengan menghilangnya sekelumit dari dirimu.
Boleh jadi kau bersamaku, namun
dimana hatimu?, tatap yang utuh menatapku dimana perhatianmu yang ku nantikan.
Kamu masih saja belum hadir
sekitar tlah berubah aku tiba di suatu tempat, ada seperti bukit tinggi
berwarna hijau. Bukan pohon yang membuatnya menjadi hijau, namun lumut.
Kemudian aku terposisikan diantara tiga telaga. Masing – masingnya memiliki
warna, kedalaman, riak air, dan bias yang berbeda. Dan hal kedua yang
kutanyakan, dimana hadirmu?
Aku masih terjebak dalam tiga
telaga itu. Ku ingat ingat lagi, warna dari tiap telaga itu berbeda – beda. Ada
yang jernih hingga aku dapat melihat betapa dalamnya telaga itu dari tepian.
Ada yang jernih pada tepinya namun mengabu menuju tengah, dan kemudian telaga
yang ada di dekat balai airnya tak begitu jenih dan aku merasa ada sesuatu yang
membahayakan ku jika aku sampai menyentuh airnya. Balai itu setidaknya dapat ku
jadikan tempat untukku bernaung barang sebentar. Namun tak ku tuju langkahku
tuk kesana. Aku ingin pergi. Namun tak tau bagaimana untuk berteleportasi.
Bagaimana ini?, sempat perasaaan terjebak dan takut menyelimuti hati dan
fikirku. Sekali lagi, dalam selanya aku berfikir aku tak menemukanmu.


0 komentar:
Posting Komentar